![]() |
| Sumber Gambar: By Artificial Intelligence |
Oleh: Muh Faozhan
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram
Film dokumenter investigatif "Pesta Babi. Kolonialisme di Zaman Kita" (2026) karya sutradara Dandhy Dwi Laksono dan peneliti Cypri Jehan Paju Dale hadir sebagai sebuah interupsi visual yang menggugah kesadaran kolektif. Diproduksi melalui kolaborasi lintas lini antara WatchDoC, Yayasan Bentala Pusaka, Jubi.id, Greenpeace, dan Ekspedisi Indonesia Baru, film ini merekam realitas sosial-politik yang terjadi di Papua Selatan.
Di balik lensa kamera, "Pesta Babi" bukan sekadar sinema tontonan, melainkan sebuah dokumen sosial yang membedah benturan keras antara ambisi geopolitik negara dan pertahanan ruang hidup masyarakat adat. Tulisan ini akan mengulas bagaimana film tersebut memotret krisis agraria, kolonialisme modern, serta polemik ruang publik yang menyertainya.
1. Proyek Strategis Nasional dan Krisis Agraria
Inti narasi dari film dokumenter "Pesta Babi" yang saya tangkap berpusat pada penetrasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di bidang industri pangan skala besar (food estate) yang merambah tiga kabupaten di Papua Selatan. Menggunakan pisau analisis ekologi politik, film ini memperlihatkan lanskap konflik agraria yang asimetris.
Pemerintah pusat mendefinisikan meg4 proyek ini sebagai langkah mutlak demi swasemb4da kekosongan pangan dan modernisasi ekonomi kawasan timur. Namun, di sisi lain, film ini merekam realitas sebaliknya, sebuah krisis eksistensial bagi Orang Asli Papua. Konversi hutan adat menjadi lahan industri monokultur secara langsung mencabut hak kedaulatan atas tanah yang telah dijaga secara turun-temurun, memicu devaluasi nilai lingkungan demi akumulasi kapital sepihak.
2. Framing Kolonialisme Modern dan Resistensi Budaya
Film dokumenter ini membangun sebuah bingkai kritis (critical framing) atas definisi "pemb4ngunan". Neg4ra sering kali membawa narasi bahwa modernisasi adalah instrumen peningkatan kesejahteraan. Namun, dokumenter ini mendekonstruksinya dengan menunjukkan bagaimana kehadiran industri bes4r yang disokong regulasi dan instrumen keamanan justru bekerja sebagai bentuk koloni4lisme gaya baru. Masyarakat lokal perlahan diasingkan dari tanahnya sendiri.
Meski demikian, film ini tidak menempatkan masyarakat adat semata-mata sebagai korban yang pasif. Pendokumentasian gerakan perlawanan suku Marind dan Suku Auyu memperlihatkan keteguhan resistensi kultural mereka. Simbol "S4lib Mer4h" yang ditancapkan di tanah adat diangkat menjadi representasi yang kuat, sebuah batas suci pertahanan iman, martabat, dan hak hidup yang tidak boleh digusur oleh eksavator raksasa.
3. Judul "Pesta Babi" diambil dari ritual tradisi komunal masyarakat Papua yang melambangkan kelimpahan, ucapan syukur, dan kohesi sosial. Namun, di dalam film ini, istilah tersebut bertransformasi menjadi sebuah metafora yang ironis.
"Selama hutan dan laut masih ada, maka di situ jati diri masyarakat adat tetap hidup."
Bagi suku Marind dan Auyu, alam bukanlah komoditas yang bisa ditukar dengan uang atau ganti rugi materi. Ketika hutan adat mereka terancam hilang, ritual "Pesta Babi" berubah dari sekadar perayaan kultural menjadi sebuah ruang refleksi yang sarat kecemasan kolektif sebuah perayaan di ambang kepunahan ruang hidup masa depan.
4. Kehadiran film dokumenter "Pesta Babi" di ruang publik memicu gelombang diskusi yang sengit sekaligus polarisasi tajam antara otoritas negara dan masyarakat sipil. Kita mulai dari Aspek Legalitas Menyoal pelaksanaan nonton bareng (nobar) yang masif tanpa adanya Sertifikat Lulus Sensor (SLS) resmi dari Lembaga Sensor Film (LSF), setelah itu Kebebasan Berekspresi, Menilai pemutaran film di basis-basis komunitas dan kampus sebagai hak konstitusional atas pendidikan publik. Dan mereka menggap 4kan merusak Stabilitas Keamanan, mereka juga Khawatir narasi investigatif yang diusung dapat memicu distorsi informasi dan mengganggu stabilitas di Papua. Sedangkan isi film tersebut memberi Akses Kebenaran Memandang isi dokumenter sebagai fakta empiris di lapangan yang kerap diabaikan oleh media arus utama.
Kontroversi ini menegaskan bahwa "Pesta Babi" bukan sekadar karya seni, melainkan arena kontestasi wacana tentang sejauh mana batas kebebasan akademik dan hak atas informasi boleh tumbuh di ruang demokrasi.
Pada akhirnya, "Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita" melampaui fungsinya sebagai alat advokasi lingkungan. Gerakan pemutaran mandiri yang merambah ranah pendidikan sekunder (seperti sekolah menengah dan universitas) membuktikan bahwa film ini memiliki nilai pedagogi kritis yang tinggi.
Bagi para akademisi, penulis, dan aktivis, dokumenter ini menyediakan bahan rujukan yang kaya untuk meneliti bagaimana media visual dapat digunakan untuk merangsang empati global, membongkar narasi tunggal y4ng mengat4s nam4kan pembangunan, dan menyuar4kan jeritan ekologis dari berandai-andai batas timur Nusantara. Hutan Papua bukan sekadar hamparan pohon, ia adalah struktur kebuday4an, paru-paru dunia, dan rumah terakhir bagi kemanusiaan yang sedang dipertaruhkan.

Sepertinya letak ketakutan mereka ialah ketika masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi.
ReplyDeletePost a Comment