Mataram, dimensiummat.id -Malam itu, saat sebagian orang berbajukan selimut, menghangatkan tubuh dari dinginnya malam.
Gemericik air mengalir di bawah atap sepoi dan suara ribut tak keruan terdengar samar.
Aku… di kamar itu, ditemani cahaya lembut yang berpendar, memantulkan bayang-bayang diriku yang sempat hilang.
Kembali membuka lembaran yang sempat terhenti.
Bukan karena apa ..hanya saja, empat tahun lamanya.
Cahaya kecil itu mengembara dalam kegelapan, lalu muncul dan kembali mengusik detak hatiku yang lama diam.
Ia muncul dan terbesit begitu cepat,
hingga cepat- cepat aku menggapainya, agar tidak kembali jatuh ke tempat yang sama, di tempat yang gelap dan sunyi.
Dengan tangan yang bergetar
Ku tuangkan ke lautan coretan
yang dulu dipenuhi ribuan mimpi dan harapan.
Sebuah tanya, sederhana, namun penuh makna:
“Hidup yang seperti apa yang kau inginkan?”
Seketika air mata ini jatuh tak terbendung—
mengalir lembut bersama rasa penyesalan
dan ketakutan.
Bukan karena lemah,
Melainkan karena menyadari bahwa diri ini hampir saja hilang
Mimpi-mimpi dan harapan itu
kembali membayangiku.
Aku berdialog dengan diriku yang lama diam,
ke mana aja kamu selam ini?
Mengapa baru sekarang kembali ke permukaan?
Meski remang..cahaya itu tetap memancar
Walau bergelut dengan kegelapan.
Anehnya, cahaya itu tetap bertahan seolah menolak untuk padam.
Iya rapuh..
Karena itu aku sadar, aku butuh bantuan
cahaya lain sebagai penuntun.
yang bukan hanya menerangi,
tetapi juga kuat menghadapi badai yang menerjang.
Agar aku tahu
di mana titik jatuhnya, dimana luka itu bermula
dan bagaimana membawanya kembali ke permukaan
untuk menjadi penerang bagi kehidupanku.
Oleh: siti maulida melia
Editor: Anti

إرسال تعليق