![]() |
| Sumber: Wartawan LPM Dimensi |
Mataram, Dimensiummat.id – Perempuan di sejumlah desa di Pulau Lombok mulai mengambil peran penting dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan melalui advokasi kebijakan dan dana desa. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan akses energi bersih yang lebih merata sekaligus mengurangi beban yang selama ini banyak ditanggung perempuan dalam urusan rumah tangga.
(30/05/26)
Salah satu anggota komunitas perempuan Sekolah Perempuan Akar Rumput (Sekra), Tuti, menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam isu energi berawal dari keinginan untuk menyuarakan kebutuhan masyarakat yang selama ini kurang diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan di desa.
"Kami hadir untuk mengadvokasi dana desa agar dapat dimanfaatkan bagi kebutuhan masyarakat, termasuk dalam penyediaan energi terbarukan," ujarnya saat diwawancarai dalam kegiatan Wonderfest 2026.
Menurut Tuti, kebutuhan energi sehari-hari di desanya relatif terpenuhi karena akses terhadap LPG cukup mudah. Namun, masalah sering muncul ketika terjadi kelangkaan dan kenaikan harga gas yang berdampak langsung pada kehidupan perempuan.
"Kalau gas langka, yang paling panik duluan biasanya perempuan karena mereka yang bertanggung jawab menyiapkan kebutuhan rumah tangga," katanya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum adanya energi terbarukan, masyarakat sebagian besar bergantung pada LPG dan bahan bakar fosil lainnya. Kini beberapa desa di Lombok telah mulai memanfaatkan biogas dan energi surya melalui program yang didukung dana desa.
Salah satu contoh keberhasilan terjadi di Desa Pandan Indah, Lombok Tengah. Sebelumnya masyarakat harus membeli solar untuk mengoperasikan pompa air dari sumur bor. Setelah dilakukan advokasi kepada pemerintah desa, panel surya dipasang untuk menggerakkan sistem penyediaan air bersih.
"Setelah ada panel surya, air bisa mengalir dengan baik menggunakan energi matahari tanpa harus membeli solar lagi," jelasnya.
Selain memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, program energi terbarukan juga dinilai meningkatkan kepercayaan diri perempuan untuk terlibat dalam forum-forum desa. Tuti mengungkapkan bahwa sebelum bergabung dalam komunitas, banyak perempuan merasa tidak percaya diri untuk berbicara di hadapan para pemangku kepentingan.
"Kami sekarang sudah berani menyampaikan kebutuhan dan aspirasi kami di depan pemerintah desa. Itu perubahan yang sangat terasa," ujarnya.
Meski demikian, tantangan masih tetap ada. Keterbatasan dana desa membuat berbagai kebutuhan energi di sejumlah wilayah belum sepenuhnya terpenuhi. Untuk mengatasi hal tersebut, komunitas perempuan aktif mengajukan proposal kepada berbagai instansi, seperti Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dinas Lingkungan Hidup, hingga lembaga lainnya yang memiliki program pendukung energi terbarukan.
Tuti berharap dalam lima tahun ke depan akses energi bersih dapat dinikmati secara merata oleh seluruh masyarakat desa. Ia juga menyampaikan pesan kepada para pembuat kebijakan agar lebih memperhatikan suara perempuan dalam perencanaan pembangunan.
"Dengarkan keluh kesah perempuan, karena kemajuan negara juga ada di balik peran perempuan," tegasnya.
Setelah mengikuti Wonderfest 2026, Tuti mengaku semakin optimistis terhadap masa depan transisi energi di Indonesia. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mulai tertarik dan ingin memahami bagaimana energi terbarukan dapat menjadi solusi bagi kebutuhan sehari-hari sekaligus membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan.WACAN

Post a Comment