Asap Perlawanan: Jalan Panjang Menuju Keadilan Mahasiswa

 

Foto Penulis 

Oleh pria jahat (Wikass)


Asap rokok yang menari liar di sudut ruangan itu seolah melawan udara bersih—seperti Wikass yang menolak tunduk pada ketidakadilan. Bibirnya yang berlumur asap adalah simbol keras kepala seorang pria yang tahu bahwa perubahan tak pernah datang dengan tunduk patuh. Dalam kepulan asapnya, ada pesan yang tak terbantahkan: keadilan tidak diberikan, ia harus direbut.


Di lorong-lorong kampus, langkah-langkah mahasiswa bergaung seperti dentuman genderang perang. Mereka bukan sekadar pembaca buku, tetapi penjaga martabat bangsa. Birokrasi mungkin mencoba meninabobokan mereka dengan aturan-aturan dingin, tetapi Wikass—si “pria jahat” itu—mengguncang mereka dengan kata-kata yang menusuk: jangan biarkan nurani kalian terkubur di balik papan pengumuman dan rapat formalitas.


Jalan panjang menuju keadilan tidak pernah tenang. Ia dipenuhi jebakan kepentingan dan perangkap kompromi. Ketika hak-hak mahasiswa dipinggirkan, pertanyaan besar pun menggema: akankah mereka diam, ataukah mereka berani berdiri meski dunia menentang? Wikass, dengan rokok yang perlahan habis, memandang mereka dan berbisik tajam, “Perlawanan dimulai dari kesadaran—dan kesadaran dimulai saat kalian berani marah untuk sesuatu yang benar.”


Perjuangan mahasiswa bukan sekadar pawai di jalanan dengan poster-poster pudar. Ia lahir dari obrolan serius yang menguras energi, dari diskusi di kedai kopi yang dipenuhi tawa getir, dari kertas-kertas penuh coretan ide yang belum selesai. Di tempat-tempat itulah keberanian ditempa—bukan dengan kekerasan buta, tetapi dengan argumentasi yang tajam dan solidaritas yang tak bisa dibeli. Wikass tahu: kekuatan sejati gerakan lahir dari kepala dingin dan hati yang membara.


Tidak ada kemenangan tanpa luka. Luka-luka itu bukan aib, tetapi tanda bahwa mereka telah bertarung. Mahasiswa yang berani bersuara menanggung risiko dicibir, diintimidasi, bahkan dilupakan. Namun seperti asap rokok yang lenyap tetapi meninggalkan aroma, setiap aksi mahasiswa menorehkan jejak sejarah. Wikass melihat itu sebagai bukti bahwa bangsa ini masih memiliki generasi yang menolak tunduk pada ketidakadilan.


Dunia mungkin mencoba mengecilkan suara mahasiswa, menyebut mereka naif, atau memutarbalikkan idealisme mereka. Tetapi di setiap sudut ruang diskusi, di setiap lorong kampus, ada Wikass—pria jahat dengan bibir berlumur asap—yang berdiri tegak, menolak menyerah. Rokoknya mungkin padam, tetapi kata-katanya adalah api yang menyulut semangat.


Perjuangan ini panjang, penuh tikungan, dan sering melelahkan. Namun setiap langkah mahasiswa hari ini adalah warisan bagi generasi esok: bahwa keadilan adalah hak, bukan belas kasihan. Di antara asap tipis dan bayangan malam, semangat itu menyala. Wikass berdiri di sana, dengan bibir berlumur asap rokok, sebagai saksi sekaligus pengobar harapan: perjuangan mahasiswa tak akan pernah mati, karena perubahan adalah kewajiban, bukan pilihan.

Post a Comment

Previous Post Next Post