Foto: Instagram kpfm968
Oleh: Novi Aulia Putri
Anggota Lembaga Pers Mahasiswa Dimensi UMMat
Mataram, Dimensiummat.id— Belakangan ini, masyarakat Indonesia seakan tidak pernah kehabisan berita tentang korupsi. Hampir setiap waktu muncul kasus baru yang mengungkap bagaimana anggaran yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik justru disalahgunakan oleh pihak-pihak yang diberi kepercayaan untuk mengelolanya. Berbagai sektor telah terseret dalam praktik korupsi, mulai dari pendidikan, bantuan sosial, hingga program-program yang seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, di antara banyaknya kasus yang terungkap, menurut saya dugaan korupsi anggaran pakan satwa di Kebun Binatang Surabaya (KBS) adalah salah satu kasus yang paling menyedihkan karena korbannya bukan hanya manusia, tetapi juga makhluk hidup yang tidak mampu menyuarakan penderitaan mereka.
Berdasarkan informasi yang beredar, dugaan penyimpangan anggaran di KBS menyebabkan kerugian negara hingga Rp10,2 miliar. Akan tetapi, kerugian tersebut bukanlah satu-satunya dampak yang ditimbulkan. Dana yang seharusnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pakan dan perawatan satwa diduga tidak digunakan sebagaimana mestinya, sehingga banyak hewan mengalami kekurangan makanan, terserang penyakit, tubuh yang semakin kurus, bahkan ada yang mati.
Kasus ini sangat memprihatinkan karena dugaan korupsi tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama, yakni sejak tahun 2016 hingga 2024. Rentang waktu yang panjang ini menunjukkan bahwa masih terdapat kelemahan dalam sistem pengawasan dan pertanggungjawaban, sehingga praktik yang merugikan negara dan kesejahteraan satwa dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurut saya, kasus ini tidak hanya mencerminkan pelanggaran hukum, tetapi juga hilangnya rasa tanggung jawab moral. Satwa yang berada di kebun binatang sepenuhnya bergantung pada manusia untuk mendapatkan makanan, perawatan, dan perlindungan. Ketika anggaran yang menjadi sumber pemenuhan kebutuhan mereka disalahgunakan, maka hewan-hewan tersebut harus menanggung akibat dari perbuatan yang sama sekali bukan kesalahan mereka. Satwa-satwa tersebut menjadi korban dari keserakahan segelintir orang yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan amanah yang diberikan kepada mereka, sungguh ironi.
Lebih jauh lagi, kasus ini memperlihatkan betapa luasnya dampak korupsi terhadap kehidupan. Korupsi tidak hanya menghilangkan uang negara, tetapi juga merusak kualitas pelayanan, menghambat tercapainya tujuan suatu lembaga, dan menciptakan penderitaan bagi pihak yang paling rentan. Dalam kasus Kebun Binatang Surabaya, yang menjadi korban adalah satwa-satwa yang seharusnya memperoleh perlindungan dan perawatan yang layak. Menurut saya, apabila praktik korupsi seperti ini terus terjadi tanpa pengawasan yang ketat dan konsekuensi yang tegas, maka kepercayaan masyarakat terhadap lembaga publik akan semakin menurun.
Sebagai epilog, saya meyakini bahwa korupsi merupakan kejahatan yang dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar kerugian materi. Korupsi dapat menghancurkan kepercayaan publik, merugikan negara, dan bahkan menghilangkan hak hidup makhluk yang tidak berdosa. Karena itu, pelaku korupsi harus mendapatkan hukuman yang setimpal agar memberikan efek jera dan menjadi peringatan bagi pihak lain. Kasus dugaan korupsi di Kebun Binatang Surabaya menjadi bukti bahwa setiap rupiah yang diselewengkan bukan hanya angka yang hilang dari kas negara, melainkan juga hak yang dirampas dari mereka yang membutuhkan, termasuk satwa-satwa yang tidak mampu memperjuangkan haknya sendiri.

Post a Comment